Wednesday, November 28, 2012




Entah ada apa denganku pagi ini. Sepertinya aku sedang kesal, atau memang segala sesuatu disekelilingku memang seketika jadi mengesalkan. Tadi ketika aku mengeluarkan motorku, kurasakan ada rasa ngilu di jempol kaki kiriku. Kuarahkan pandanganku kearah jempol kaki kiriku tadi. Kulihat kuku jarinya  memutih. Sekitar tiga perempat bagiannya tidak menempel lagi pada tempatnya. Warnanya jadi putih pucat, seakan  bukan merupakan bagian dari kehidupan.  Darah merah segar mengucur dari  bagian sisinya.
Kuku jari memiliki tiga sisi yang melekat pada daging dan kulit. Dan sekarang jempol kaki kiriku  pada dua sisinya yang saling berhadapan sudah tidak lagi menancap kuku jari. Hanya tinggal satu sisi yang berhadapan dengan sisi satunya yang bebaslah yang masih menempel, terselubungi daging dan kulit. Aku sedikit panik. Cepat-cepat kukembalikan kuku jempol kakiku ke posisinya semula. Kutekan sedikit. Darah kembali mengucur dari sisi kiri dan kanan jempol kaki kiriku. Aku merasakan luka tersebut makin ngilu. Rasa ngilu yang makin menjadi ketika aku sepenuhnya sadar dengan apa yang terjadi dengan kuku jempol kaki kiriku. Standar motorku mengenainya, membentur sehingga kuku tadi terbuka, menganga dengan kulit serta daging yang terkelupas dan darah merah segar yang memancar.
Aku merasa khawatir. Bagaimana kalau ternyata pengelihatanku salah?  Bagaimana kalau ternyata seluruh kuku jempol kaki kiriku benar-benar terlepas dari ujung hingga pangkalnya? Dan yang lebih menyiksa pikirku, bagaimana kalau ternyata kuku jempol kaki kiriku tidak akan tumbuh lagi? Bayangkan saja jemari tanpa ada kuku yang melindungi.  Seketika perutku terasa mual. Kulihat kucuran darah yang berceceran. Sehera kuambil sekotak tissue, kusambar beberapa lembar isinya, dan kusentuhkan satu dari salahsatu ujungnya pada kucuran darah yang merah. Kubiarkan kapilaritas bekerja, meski sulit mengenyahkan kucuran darah yang masih betah mengalir, meski tidak sederas di saat-saat awal. Kuamati lagi kuku jempol kaki kiriku yang sudah berada di posisi seharusnya, meski ada bagian yang tidak menempel seperti sediakala. Dibawah kuku yang memucat itu masih terlihat darah yang terjebak sehingga seakan nampak masih ada kehidupan disana.  Kehidupan semu.
Pada dasarnya kuku merupakan batas yang nyata antara sesuatu yang hidup dan yang mati, laiknya rambut. Batas antara rasa sakit dan perasaan yang telah mati. Karena apabila kuku dipotong, tidak akan ada rasa sakit yang muncul, kecuali bagian daging dan kulit yang menyelubunginya ikut dipotong. Rasa sakit karena suatu kehilangan.  Rasa sakit karena ditinggalkan. Mustahil  apabila semua bagian kuku tersebut dapat terpotong tanpa adanya rasa sakit, kecuali apabila diberi obat bius, tentunya.  
Untuk kesekian kali, kuamati jemari kakiku lagi. Jempol kaki kiriku  masih terlihat janggal. Warnanya antara putih kebiruan. Kulihat sejenak penunjuk waktu di  ponselku. Hampir jam tujuh. Sial. Aku terburu.

._.   |:      .-.      :|   ._.  #emotsalto

Seharian penuh aku tak bisa konsentrasi pada rutinitasku. Kalau bukan karena jempol kaki kiriku, kenapa lagi? Lukanya memang sudah kututupi dengan plester, tadi. Bahkan aku sempat mengganti plesternya beberapa kali. Dan ketika kubuka nampak cairan, entah apa namanya, membekas di plester dengan warna serupa kulit itu. Aku beralih pada perban.
Sudah malam. Luka tadi masih ngilu. Aku merasa tidak enak badan. Rasa sakit tadi seakan merambat, membuat perutku mual. Menjadikan kepalaku terasa berat. Menghangatkan suhu tubuhku, menjalar hingga ke leher.
 Kubaringkan tubuhku keranjang. Di pojok atas ranjang  dekat tembok tersusun boneka-bonekaku.Semuanya berukuran kecil hingga sedang. Takada yang besar. Yang terkecil seukuran boneka tangan, dan yang terbesar  tingginya hanya sekitar dua jengkal. Kututupi tubuhku dengan selimut tipis dan kususun boneka-boneka itu menutupi bagian atas tubuhku. Aku butuh tidur.



*fyi: Kuku yang patah sampai ke pangkal lama-lama bakal numbuh lagi kok, meskipun tumbuhnya jadi agak beda, lebih tebal. Mungkin semacam mekanisme pertahanan diri biar nggak gampang patah. Kalau sampai mengalami kuku yang patah sampai ke pangkal, bawa ke pihak yang berwenang buat operasi biar bisa sekalian dicabut.  




Post a Comment:

Designed By Blogger Templates | Templatelib & Distributed By Blogspot Templates