Sunday, November 3, 2013

"Belum tidur kamu, nak?" tangan bunda membelai kepala Alerta, putrinya yang tengah berbaring di ranjang namun belum memejamkan mata.

"Belum ngantuk, nda... Ceritain sesuatu dong buat bahan mimpi nanti." jawab Alerta

"Kamu mau cerita tentang apa? Dongeng tentang putri dan ksatria??" sang bunda masih membelai lembut kepala putrinya.

"Enggak ah.. Bosen.. Ceritanya gitu-gitu aja. Yang lain dong, nda.." pinta Alerta

"Yaudah. Bunda cerita soal nelayan aja, ya. Nelayan pemuja rembulan."

***

Dahulu kala, di sebuah pulau terpencil berpasir hiduplah seorang nelayan. Nelayan tersebut hidup seorang diri karena memang pulau yang dia tinggali terlalu kecil untuk dijadikan tempat tinggal bersama. Sesekali memang ada beberapa orang yang mampir karena tersesat ataupun kelelahan.Namun mereka tidak pernah tinggal terlalu lama karena memang tidak ada banyak hal yang bisa mereka dapat dari pulau terpencil berpasir tersebut. Mereka hanya melihat pasir dan mendapat kekosongan serta kesunyian.Maka tidak heran apabila si nelayan sering kali merasa kesepian karena orang-orang memang hanya sekadar mampir, namun tidak pernah berminat untuk menetap ataupun tinggal.
Si nelayan hanya memiliki sebuah perahu kayu beserta sebuah dayung untuk menemaninya melaut ketika malam. Iya. Nelayan tersebut lebih memilih waktu malam hari untuk melaut. Bukan karena cemas akan teriknya siang yang membakar kulit. Bukan juga karena khawatir burung-burung camar akan merebut hasil tangkapannya. Si nelayan melaut di waktu malam atas dasar rasa rindu pada rembulan. Bagi si nelayan, rembulan adalah satu-satunya bentuk dari keindahan. Hanya rembulan, bukan bintang . Karena bagi si nelayan, bintang yang bertebaran tak ubahnya seperti pasir pantai yang tersebar menghampar, berkilau cantik ditimpa mentari. Terlalu serupa, terlalu sama, terlalu banyak  sehingga menjadi tidak istimewa. Hanya bulan satu-satunya alasan si nelayan rela menahan angin malam nan jahanam. Ironisnya, si nelayan hanya mampu memuja rembulan yang terpantul di lautan. Ini bukan tanpa alasan. Si nelayan terlalu takut menengadah ke atas. Lagipula, seorang nelayan sudah seharusnya lebih memperhatikan lautan. Sesekali si nelayan mencelupkan jemarinya ke lautan dimana ada pantulan rembulan. Si nelayan tersenyum, merasa mampu menyentuh rembulan. Rembulan yang semu, sekadar pantulan. Rembulan yang dari hari ke hari tidak pernah sama bentuknya. Kadang cekug, cembung, atau bulat penuh. Rembulan yang terang benderang, meski tak segemerlap bintang-bintang. Walau demikian, si nelayan tetap menjadi pemuja rembulan sampai akhir hayatnya. Sampai sang nelayan memutuskan untuk menyelam, merengkuh pantulan rembulan pujaan tanpa berminat untuk kembali lagi ke daratan.
***

Alerta kecil masih belum tidur. Cerita sang bunda justru membuatnya penasaran.

"Nda.. Apa nelayannya enggak capek jadi pemuja rembulan? Kenapa nggak jadi astronot aja biar bisa ketemuan sama rembulan? " tanya Alerta polos.

"Justru si nelayan malah terlalu capek, lelah dengan ketidakpastian. Tapi mau bagaimana lagi. Matanya terlanjur silau oleh kilau pantulan rembulan. " jawab sang bunda.

"Terus endingnya gitu doang? Si nelayan pemuja rembulan tenggelam?" Alerta masih penasaran.

"Tadi katanya bosen sama dongeng yang biasa? Bunda nggak bilang si nelayan tenggelam kok. Bunda cuman bilang dia menyelam. Kalau menurut kamu, si nelayan kemana? Coba kamu bayangkan sambil memejamkan mata." kata bunda sembari membelai rambut Alerta. Alerta diam dan memejamkan matanya. Perlahan napasnya menjadi teratur. Alerta tertidur.

"Selamat malam Alerta." bisik bunda di telinga Alerta. Sementara kisah si nelayan pemuja rembulan tengah berjalan dalam mimpi Alerta. Hanya Alerta yang tahu jalan ceritanya.


Post a Comment:

Designed By Blogger Templates | Templatelib & Distributed By Blogspot Templates