Thursday, March 20, 2014

dokumentasi dengan ponsel pinjaman..
maaf kalo agak ambyar, keburu lapar :p

Buat para penghuni lama kampus Fisipol UGM (paling enggak angkatan '12 ke atas), pasti tahu lah makanan yang satu ini. Kalo denger kata mie ayam, memang sih kesannya standar dan ada dimana-mana. Tapi kalo mie ayam goreng, setahu saya tidak selalu ada di warung-warung mie ayam konvensional. Untuk itu, baiklah sekarang saya jabarkan mengenai makanan legendaris halahh ini...

Kalau boleh jujur, saya sendiri juga tidak paham kapan sebenarnya mie ayam ini mulai dijajakan dan mengisi perut manusia-manusia yang jajan di kantin Fisipol. Maklum, saya kan baru kuliah di sini dua tahun. Ketika tahun pertama kuliah, memang kantin fisipol bisa dibilang masih utuh alias masih banyak ada yang jualan. Namun, memasuki tahun kedua saya kuliah, kantin fisipol jadi suwung. Duh, sepertinya saya malah curhat... 

Mie ayam goreng kantin fisipol sepintas memang menyerupai Ind*mie goreng atau yamie versi mie ayam m*s y*di. Namanya juga mie goreng, warnanya kecoklatan gitu kayak mie-mie goreng konvensional  yang bisa kita bikin sendiri atau minta dibikinin 'aak-'aak burjonan. Tapi, bagi saya, semangkuk mie ayam goreng adalah semangkuk kebahagiaan. Kebahagiaan yang kurang lebih serupa dengan kebahagiaan yang muncul ketika menyantap mie goreng dengan rasa manis pada umumnya. *Iya, kalau boleh jujur, saya memang suka mie goreng, khususnya ind*mie goreng*.

Demikian yang bisa saya sampaikan. Kurang lebihnya, harap maklum..

Post a Comment:

Designed By Blogger Templates | Templatelib & Distributed By Blogspot Templates