Wednesday, April 19, 2017



Mendung tampak menggantung murung di hari rabu siang itu. Miranda tengah melangkah menuju lantai tertinggi sebuah gedung perpustakaan tua, menanti seorang responden yang harus diwawancarainya. Seorang perempuan muda yang mengaku kerap berkunjung ke perpustakaan tua ini untuk mencari sepi. Sebagai pewawancara yang baik, Miranda memilih untuk meng-iya-kan saja lokasi pertemuan mereka. Ada baiknya juga bertemu di tempat yang familiar bagi responden sehingga membuatnya lebih rileks dan nyaman manakala menjawab pertanyaan-pertanyaan yang hendak diajukan. Terlebih, perpustakaan tua tersebut konon kabarnya memang sepi. Miranda tak perlu khawatir apabila hasil rekaman wawancara tertimpa suara-suara manusia-manusia lain yang menganggu.

Miranda sebetulnya sudah beberapa kali mengunjungi perpustakaan tua ini. Namun, baru kali ini ia menginjakkan kaki di lantai tertinggi. Sepasang pintu kaca besar langsung menyambutnya, menampilkan bidang lantai tertinggi, cukup luas tanpa atap yang menaungi. Rasa-rasanya Miranda paham mengapa si responden menyukai tempat ini. Ia menduga bahwa  bidang luas tanpa atap di lantai tertinggi ini adalah tempat si responden menemui kekasihnya: salah seorang pahlawan super yang tak ingin diungkap identitasnya. Pada mulanya, Miranda lebih tertarik untuk menuliskan profil si pahlawan super di surat kabar daring tempatnya magang. Akantetapi, namanya juga pahlawan super. Tentu super sibuk mengurus ini-itu, memberantas kejahatan, mencerdaskan kehidupan bangsa, apapun lah, demi berkontribusi bagi perdamaian dunia. Akhirnya, Miranda memutuskan untuk mengalihkan wawancaranya pada si pacar dari sang pahlawan super. Lagipula, jikalau pahlawan super sudah berkorban banyak demi perdamaian dunia, lebih-lebih kekasihnya. Atas dasar keamanan, Miranda juga menyetujui bahwa identitas si pacar akan disamarkan. Demi apa lagi kalau bukan demi keberlangsungan hidup si pacar itu tadi. Walau begitu, diam-diam Miranda masih berharap bisa bertemu secara langsung dengan si pahlawan super yang konon kabarnya berwajah tampan itu.

"Susah nyari tempatnya, mbak?" tegur sebuah suara lembut, tepat usai Miranda mendorong pintu kaca ke arah luar. Suara tersebut berasal dari sisi kiri pintu kaca, cukup tersembunyi manakala dilihat dari bagian dalam. Sebagai pacar dari seorang pahlawan super, si responden rupanya sudah biaya mencari terlebih dahulu orang-orang yang janji bertemu dengannya. 

"Eh, enggak kok, mbak. Sudah lama?" jawab Miranda, sedikit canggung lantaran tidak menyangka akan disambut dengan cara demikian.

"Lumayan. Saya tadi ke sini bareng pacar saya. Maklum, pahlawan super, mau kemana-mana gampang. Ya, meskipun kadang saya juga ke sini jalan kaki.." jawaban si responden mengukuhkan asumsi Miranda mengenai alasan si responden memilih lokasi pertemuan mereka siang ini, sekaligus menjawab cadangan pertanyaan Miranda yang dimaksudkan sebagai basa-basi. Sepertinya Miranda harus mencari alternatif lain untuk berbasa-basi.





Post a Comment:

Designed By Blogger Templates | Templatelib & Distributed By Blogspot Templates